Demo Mahasiswa Gambir: Massa tuntut perlindungan hutan di Jakarta Pusat

Demo Mahasiswa Gambir: Massa tuntut perlindungan hutan di Jakarta Pusat

Suarakan Aspirasi Hijau di Jantung Ibu Kota

Kawasan Gambir, Jakarta Pusat, hari ini dipadati oleh ratusan mahasiswa dari berbagai aliansi universitas yang menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Di bawah terik matahari, massa aksi menyuarakan kegelisahan mereka terkait semakin menyusutnya ruang terbuka hijau dan tuntutan perlindungan hutan lindung di seluruh Indonesia. Aksi ini menjadi sorotan publik karena dilakukan tepat di depan titik-titik strategis pemerintahan, menuntut komitmen nyata dari para pemangku kebijakan untuk lebih memprioritaskan keberlanjutan ekosistem dibandingkan ekspansi industri yang eksploitatif di tahun 2026 ini.

5 Tuntutan Utama Massa Aksi

  1. Moratorium Izin Tambang: Mahasiswa menuntut pemerintah segera menghentikan pemberian izin pembukaan lahan hutan untuk kepentingan pertambangan di wilayah kritis.

  2. Revisi Regulasi Lingkungan: Mendesak penguatan undang-undang perlindungan hutan agar memberikan sanksi lebih berat bagi korporasi pembakar hutan.

  3. Perluasan RTH Jakarta: Menuntut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menambah luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% sesuai mandat tata ruang.

  4. Transparansi Dana Lingkungan: Meminta kejelasan mengenai alokasi dan penggunaan dana reboisasi nasional yang dinilai tidak tepat sasaran.

  5. Perlindungan Masyarakat Adat: Mendesak pengakuan sah atas hutan adat agar tidak mudah dikonversi menjadi lahan industri oleh pihak swasta.


Analisis Dinamika Lapangan dan Dampak Sosial

A. Eskalasi Massa dan Kondisi Lalu Lintas Sejak pagi hari, arus lalu lintas di sekitar Jalan Medan Merdeka Timur dan kawasan Gambir mengalami pengalihan total. Orasi yang disampaikan para koordinator lapangan menekankan bahwa kondisi hutan Indonesia sedang dalam status "darurat". Meskipun sempat terjadi saling dorong dengan aparat keamanan di depan gerbang kementerian, aksi secara umum berjalan kondusif. Mahasiswa menggunakan berbagai atribut kreatif, mulai dari teatrikal manusia pohon hingga poster-poster satir yang mengkritik kebijakan pro-investasi tanpa memperhatikan amdal.

B. Urgensi Isu Lingkungan di Mata Generasi Muda Aksi ini mencerminkan meningkatnya kesadaran ekologis di kalangan Gen Z dan Milenial pada tahun 2026. Bagi para mahasiswa, isu hutan bukan sekadar angka statistik, melainkan masa depan ketersediaan oksigen dan mitigasi krisis iklim. Mereka menilai bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti jika bencana ekologis seperti banjir dan kekeringan terus menghantui akibat rusaknya paru-paru dunia. Gerakan di Gambir ini juga mendapatkan dukungan luas dari netizen di media sosial, yang memperkuat narasi tuntutan melalui tagar perjuangan lingkungan.

C. Respons Pemerintah dan Langkah Diplomasi Menjelang sore hari, perwakilan dari kementerian terkait akhirnya menemui massa aksi untuk melakukan audiensi singkat. Pemerintah menjanjikan akan meninjau ulang beberapa konsesi lahan yang menjadi sengketa, namun mahasiswa menegaskan bahwa mereka tidak butuh janji manis melainkan bukti hitam di atas putih. Dialog ini diharapkan menjadi titik awal sinkronisasi antara ambisi pembangunan nasional dengan perlindungan alam yang absolut, guna memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga bagi generasi mendatang.


 

Demo mahasiswa di Gambir hari ini merupakan pengingat keras bagi pemerintah bahwa suara lingkungan kini berada di garda terdepan aspirasi rakyat. Penyelamatan hutan bukan lagi isu sampingan, melainkan fondasi utama kedaulatan bangsa di tengah krisis iklim global 2026. Keberanian para mahasiswa dalam mengawal kebijakan lingkungan diharapkan dapat membuahkan hasil nyata dalam bentuk regulasi yang lebih hijau. Mari kita terus mendukung upaya pelestarian hutan, karena menjaga alam adalah cara terbaik untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.